Tuesday, March 26, 2019

INDEX NEWS UPDATE - IHSG Diprediksi Tertekan Akibat Kondisi Global


Index News Update, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bakal melemah pada perdagangan saham hari ini. Pergerakan IHSG masih cukup fluktuatif dipengaruhi oleh ketidakpastian dari faktor global.
Analis PT Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan menilai, IHSG membentuk formasi bullishharami menandakan ada potensi melanjutkan penguatan.
BACA JUGA :
PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
    Namun penguatan ini diperkirakan hanya akan berlangsung dalam jangka pendek melihat ketidakpastian global saat ini. Adapun dia memperkirakan IHSG akan tertekan hari ini diperdagangkan pada level 6.446-6.485
    Berbeda, Fund Manager PT Valbury Capital Management Suryo Narpati memprediksi IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat pada hari ini.
    Menurutnya, IHSG akan berada pada kisaran support 6.377 dan resistance 6.460.
    "Diperkirakan tekanan terhadap Global mereda dan dapat mendorong IHSG untuk bergerak mixed, ditopang sentimen musim laporan laba emiten," jelasnya Rabu (27/3/2019).
    Adapun saham yang dianjurkannya ialah saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM).
    Sedangkan Dennies menyarankan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Medco Energi International Tbk (MEDCO), serta PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).

    IHSG Ditutup Menguat, Rupiah pada Posisi 14.170 per Dolar AS

    Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada penutupan perdagangan saham sore hari ini. Adapun nilai tukar rupiah pada posisi 14.170 per Dolar AS.
    Pada penutupan perdagangan saham, Selasa (26/3/2019), IHSG menguat 58,74 poin atau 0,92 persen ke posisi 6.470. Indeks saham LQ45 juga naik 1,35 persen ke posisi 1.017,5. Seluruh indeks saham acuan kompak menguat.
    Sebanyak 230 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. Sementara 169 saham melemah dan 138 saham diam di tempat. Pada awal pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.478,04 dan terendah 6.439,58.
    Total frekuensi perdagangan saham sekitar 407.663 kali dengan volume perdagangan saham 13,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,7 triliun.
    Investor asing beli saham Rp 372,19 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.170.
    Seluruh sektor saham kompak menghijau. Sektor saham industri dasar menguat 1,81 persen, dan bukukan penguatan terbesar.
    Disusul sektor saham konsumsi bertambah 1,20 persen dan sektor saham manufaktur naik 1,34 persen.
    Saham-saham yang cetak kenaikan antara lain saham COCO naik 24,62  persen ke posisi Rp 810 per saham, saham BABP naik 17,95 persen ke posisi Rp 46 per saham, dan saham MDKI menanjak 17,07 persen ke posisi Rp 288 per saham.
    Saham-saham yang tertekan antara lain saham IDPR merosot 24,69 persen ke posisi Rp 482 per saham, saham GAMA tergelincir 18,57 persen ke posisi Rp 57 per saham, dan saham GIAA  terpangkas 13,64 persen ke posisi Rp 462 per saham.

    Sumber : Liputan 6

    Monday, March 25, 2019

    INDEX NEWS UPDATE - IHSG Bakal Melemah Tersengat Sentimen Global


    Index News Update, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan bergerak tertahan melemah terbatas dengan support resistance di level 6350-6425.
    Analis PT Bahana Sekuritas Lathief Gunawan Mohamad menuturkan, sentimen IHSG hari ini lebih dipengaruhi oleh faktor global.
    "Untuk besok masih kemungkinan besar mixed cenderung melemah. Ketidakpastian marketglobal membuat IHSG makin dalam terkoreksi," ujarnya saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (26/3/2019)

    .BACA JUGA
    Adapun dia memperkirakan IHSG cenderung tertekan dengan kisaran support 6.376 dan resistance 6.439.
    Senada, Analis PT Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan mengungkapkan, pergerakan indeks diperkirakan masih akan fluktuatif didorong oleh ketidakpastian terutama dari sentimen global setelah yield obligasi pemerintah Amerika Serikat menunjukkan tanda resesi.
    Dia melanjutkan, IHSG kemungkinan terkoreksi pada rentang 6.376-6.459
    Untuk saham rekomendasi dari para analis, mereka menganjurkan saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP), serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
    Kemudian saham PT JAPFA Tbk (JPFA), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

    Perdagangan Kemarin

    Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan saham Senin pekan ini. Di sisi lain, nilai tukar rupiah kembali menguat ke posisi 14.180 per dolar AS.
    Pada penutupan perdagangan saham, Senin (25/3/2019), IHSG merosot 114,02 poin atau 1,75 persen ke posisi 6.411,25. Indeks saham LQ45 tergelincir 2,13 persen ke posisi 1.004,03. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.
    Sebanyak 315 saham melemah sehingga menekan IHSG. 109 saham menguat dan 109 saham diam di tempat. Pada awal pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.474,64 dan terendah 6.391,52.  
    Total frekuensi perdagangan saham sekitar 479.537 kali dengan volume perdagangan saham 13,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 8 triliun.
    Investor asing jual saham Rp 138,23 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.180.
    10 sektor saham kompak tertekan. Sektor saham barang konsumsi merosot 2,77 persen, dan bukukan penurunan terbesar.
    Disusul sektor saham aneka industri tergelincir 2,46 persen dan sektor saham manufaktur susut 2,23 persen.
    Saham-saham yang cetak kenaikan antara lain saham BEEF naik 26,32 persen ke posisi Rp 240 per saham, saham COCO melonjak 23,81 persen ke posisi Rp 650 per saham, dan saham BKDP menanjak 21,31 persen ke posisi Rp 74 per saham.
    Saham-saham yang tertekan antara lain saham SIMA merosot 22,62 persen ke posisi Rp 130 per saham, saham GLOB tergelincir 13,64 persen ke posisi Rp 380 per saham, dan saham PEHA terpangkas 11,41 persen ke posisi Rp 2.330 per saham.
    Bursa saham Asia kompak merosot. Indeks saham Hong Kong Hang Seng turun 2,01 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi susut 1,92 persen, indeks saham Jepang Nikkei merosot 3,01 persen.
    Selain itu, indeks saham Thailand turun 1,31 persen, indeks saham Shanghai melemah 1,97 persen, indeks saham Singapura merosot 0,91 persen dan indeks saham Taiwan terpangkas 3,74 persen, dan catatkan penurunan terbesar di bursa saham Asia.
    Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji mengatakan, sentimen kuat berasal dari kekhawatiran para pelaku pasar global terkait dengan faktor perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
    Indikasinya adalah proyeksi bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve pada Kamis pekan lalu yang lebih dovish terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi AS yang berpotensi turun menjadi 2,1 persen pada 2019.
    "Perlu diketahui, AS adalah negara superpower di bidang ekonomi sehingga pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi global pasti kuat. Dengan demikian, indeks AS, regional Asia, maupun komoditas sedang melemah saat ini," kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

    Sumber : Liputan 6

    SUmber 

    Sunday, March 24, 2019

    INDEX NEWS UPDATE - Keputusan The Fed Topang IHSG Sepekan


    Index News Update, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menguat selama sepekan. Hal ini didorong langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve memutuskan kurang agresif atau dovish dan beri sinyal tak naikkan suku bunga pada 2019.
    Mengutip laporan PT Ashmore Asset Management Indonesia, Sabtu (23/3/2019), IHSG menguat 0,99 persen dari posisi 6.461 ke posisi 6.525 pada 22 Maret 2019.  IHSG menguat juga didukung saham kapitalisasi besar masuk LQ45 naik 1,1 persen selama sepekan.
    Penguatan IHSG tersebut juga didorong the Federal Reserve memberikan sinyal tak menaikkan suku bunga pada 2019 dan kurang agresif. Investor asing beli saham USD 74 juta atau sekitar Rp 1,04 triliun (asumsi kurs Rp 14.177 per dolar AS).
    BACA JUGA :
    PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
    RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
    PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
    PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
      Sementara itu, indeks obligasi naik 1,1 persen selama sepekan. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun berada di posisi 7,61 persen. Posisi dolar AS di kisaran Rp 14.163. Investor asing beli obligasi mencapai USD 803 juta atau sekitar Rp 11,38 triliun hingga perdagangan Rabu.
      Sejumlah sentimen baik eksternal dan internal pengaruhi pasar keuangan global termasuk IHSG. Dari sentimen eksternal, perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China mempengaruhi pelaku pasar.
      Presiden AS Donald Trump memperingatkan AS mungkin menetapkan tarif pada barang-barang China untuk "periode substansial" sehingga memastikan pemerintahan China mematuhi perjanjian perdagangan apa pun. Donald Trump juga ingin mencapai kesepakatan perdagangan. Pembicaraan perdagangan akan dilanjutkan pekan depan.
      Kemudian, bank sentral AS juga memutuskan mempertahankan suku bunga acuan usai gelar pertemuan dalam dua hari. Hal ini seiring ekonomi AS melambat lebih dari yang diperkirakan sebelumnya dan melukiskan gambaran ekonomi jauh lebih lemah dari pada yang disampaikan pemerintah AS.
      Pimpinan bank sentral AS, Jerome Powell menuturkan, ekonomi "berada di tempat yang baik". Akan tetapi, dia mengatakan, pertumbuhan tampaknya melambat dari tahun lalu di bawah tekanan perang dagang antara AS dan China.
      Selain itu, perlambatan ekonomi di Eropa dan China dan memudarnya stimulus dari pemotongan pajak dari partai Republik pada 2017.
      Bank sentral AS saat ini mengharapkan pertumbuhan ekonomi 2,1 persen dari perkiraan pada Desember sebesar 2,3 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi 2020, bank sentral AS perkirakan pertumbuhan ekonomi hanya 1,9 persen.
      Bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) melihat tanda-tanda kelemahan antara lain pengeluaran konsumen dan investasi. Powell menilai, pertumbuhan agak melambat dari yang diharapkan.

      Sentimen Lainnya

      Sentimen eksternal lainnya yang bayangi pasar keuangan global terkait perkembangan Brexit. Uni Eropa menyetujui penundaan proses Brexit yang berliku-liku yang menghindari Inggris tersingkir tanpa kesepakatan. Uni Eropa menolak proposal Perdana Menteri Inggris Theresa May dan memberlakukan jadwal bagiannya sendiri.
      Dari internal, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga 6 persen selama empat bulan berturut-turut. Selain itu, BI juga merilis sejumlah langkah untuk meningkatkan ekonomi domestik.
      Selain itu, suku bunga simpanan dan pinjaman juga masing-masing dipertahankan pada 5,25 persen dan 6,75 persen.

      Thursday, March 21, 2019

      INDEX NEWS - The Fed Tahan Suku Bunga, IHSG Bakal Melemah


      Index News Update, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah pada perdagangan saham hari ini. Kecenderungan itu diprediksi berkisar di level support dan resistance pada 6450-6520.
      Head of Research PT Reliance Sekuritas Lanjar Nafi Taulat menyebutkan, meski secara teknikal IHSG berhasil bertahan diatas level psikologis 6500, momentum bearish (melemah) masih cukup besar pada IHSG hari ini.
      "Tren pergerakan IHSG cukup negatif jika tidak mampu break out atau kuat diatas level 6500. Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak cenderung melemah dengan support-resistance6450-6520," ujarnya Jumat (22/3/2019).
      Itu diperkuat dengan pernyataan Analis PT Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan dimana investor menganggap level index saat ini sudah priced-in.
      Pergerakan masih cukup terbatas dipengaruhi oleh keputusan The Fed dan Bank Indonesia (BI) dalam menahan suku bunganya. Adapun ia memprediksi IHSG akan terkoreksi di level 6.485-6.516.
      "Pergerakan masih akan dipengaruhi sentimen global dan rilisnya kinerja emiten untuk tahun 2018," ungkapnya.

      Saham Pilihan

      Adapun saham rekomendasi hari ini seperti saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP), PT Adaro Energy Tbk (ADRO).
      Kemudian Lanjar memilih saham PT JAPFA Tbk (JPFA), PT Timah Tbk (TINS), serta PT Medco Energi International Tbk (MEDC).

      Sumber : Liputan 6

      Wednesday, March 20, 2019

      INDEX NEWS - Target Transfer Real Madrid Bocor, Zidane Incar Nama Besar


      Index News Update, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan Rabu waktu setempat.
      Indeks saham Dow Jones dan S&P 500 melemah seiring saham keuangan sensitif terhadap suku bunga setelah the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS menegaskan sikap kebijakan moneter yang dovish.
      Pada penutupan perdagangan saham Rabu (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones melemah 141,85 poin atau 0,55 persen menjadi 25.745,53.
      Indeks saham S&P 500 tergelincir 8,35 poin atau 0,29 persen menjadi 2.824,22. Indeks saham Nasdaq bertambah 5,02 poin atau 0,07 persen menjadi 7.728,97.
      BACA JUGA :
      PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
      RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
      PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
        Tiga indeks saham utama AS secara singkat berbalik arah usai pernyataan the Fed. Hanya indeks saham Nasdaq yang berakhir di zona positif.
        "Reaksi pertama terhadap pernyataan the Fedl selalu merupakan reaksi yang salah," ujar Art Hogan, Chief Market Strategist National Securities, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (21/3/2019).
        Pada akhir pertemuan kebijakan moneter selama dua hari, the Fed mengindikasikan tidak melihat kenaikan suku bunga lebih lanjut pada 2019. Kemudian merilis rincian neraca untuk mengakhiri pengurangan bulanan neraca.
        Namun, indeks berubah positif setelah rilis pernyataan itu. Saham bank yang sensitif terhadap suku bunga, meredam reli tersebut. Sektor keuangan alami aksi jual di jam terakhir perdagangan sehingga akhiri sesi dengan turun 2,1 persen.
        Head of Trading Keefe, Bruyette and Woods, R.J Grant menuturkan, kenaikan besar dalam aksi jual di saham bank seiring imbal hasil surat berharga mendatar.
        Wall street reli sejak awal tahun, ketika pimpinan the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell mengatakan akan lebih besar untuk kebijakan moneter. Powell menegaskan, data ekonomi yang beragam dan risiko terkait Brexit serta negosiasi perdagangan sebagai alasan untuk berhati-hati.
        Federal fund futures pun melihat peluang bank sentral akan memangkas suku bunga pada awal 2020.

        Volume Perdagangan Saham

        Di sisi lain, dari 11 sektor saham utama S&P 500, enam sektor berakhir di zona negatif. Saham Fedex Corp turun 3,5 persen usai memangkas proyeksi laba seiring perlambatan pertumbuhan perdagangan global. FedEx membebani indeks transportasi Dow Jones, dan indeks turun 1,3 persen.
        Saham Rival United Parcel Service Inc merosot 2,2 persen. Sementara itu, saham General Mills Inc naik 2,2 persen setelah perseroan melaporkan laba kuartalan lebih baik dari perkiraan.
        Volume perdagangan saham di wall street sekitar 7,76 miliar saham. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata volume perdagangan saham 7,53 miliar saham selama 20 hari perdagangan.

        Tuesday, March 19, 2019

        INDEX NEWS UPDATE - Wahana Interfood Nusantara Catatkan Saham Perdana di BEI


        Index News Update, Jakarta - PT Wahana Interfood Nusantara Tbk akan mencatatkan saham perdana dengan kode saham COCO pada perdagangan perdana Rabu, (20/3/2019) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
        Mengutip laman KSEI, Produsen kakao ini telah mendapatkan pernyataan efektif untuk mencatatkan saham perdana pada 6 Maret 2019. Perseroan telah melepas saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO) dengan masa penawaran pada 11-13 Maret 2019, penjatahan pada 15 Maret 2019.
        Perseroan melepas 168 juta saham ke publik dengan nilai nominal Rp 100. Total dana yang diraup dari hasil IPO sekitar Rp 33,26 miliar.
        BACA JUGA :
        PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
        RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
        PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
        PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
          Selain itu, perseroan juga menerbitkan sebanyak 56 juta waran seri I yang menyertai saham baru atau sebanyak 16,47 persen dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh. Harga pelaksanaan waran Rp 400.
          Dana hasil IPO akan digunakan untuk belanja modal dengan bangun pabrik baru di Sumedang. Pembangunan pabrik itu akan dimulai Juni 2019.
          Sisanya akan digunakan untuk membeli tanah seluas 6.280 meter persegi. Kemudian untuk bayar uang muka kepada kontraktor.
          Setiap pemegang tiga saham baru perseroan berhak memperoleh satu waran seri I dengan setiap satu waran seri I memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham baru yang dikeluarkan dalam portepel. Waran seri I yang diterbitkan mempunyai jangka waktu pelaksanaan selama tiga tahun.

          BEI Kantongi 45 Calon Emiten Baru pada 2019

          Sebelumnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) optimis pasar saham tetap bergeliat pada tahun politik 2019. Itu ditandai dengan adanya 45 nama calon emiten baru yang berencana mencatatkan saham perdananya (Initial Public Offering/IPO) Pada tahun ini.
          Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyomat Yetna mengungkapkan, beberapa waktu lalu sudah berkoordinasi dengan penjamin emisi (underwriter) mengenai perkara calon emiten baru tersebut.
          "Di pipeline underwriter yang biasa aktif handle itu ada 45 (calon emiten 2019) di akhir tahun kemarin. Tentunya kami akan validasi lagi. Jadi kita tahu nanti potensi dari mereka," jelas dia di Jakarta, Jumat 18 Januari 2019.
          Adapun nominal tersebut terhitung lebih besar dibanding target BEI perihal perusahaan tercatat baru tahun ini, yakni 40 emiten. Namun, masih lebih sedikit daripada target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu 75-100 emiten.
          Saat ditanya terkait potensi kegiatan investor saat pesta demokrasi 2019, Nyoman yakin semuanya tetap akan berjalan baik.
          "Optimis lah, bukan apa-apa, kami pengalaman sudah banyak, di mana yang satu politik yang satu jalan terus. Itu kan pesta demokrasi. Kami juga coba yakinkan ke pihak luar bahwa kondisi pasar modal saat ini habis debat kemarin tetap berjalan dengan baik," urainya.
          "Nanti ada beberapa indikator teman-teman bisa pantau, misalnya apetite-nya seperti apa. Itu akan terlihat dari berapa yang submit berkasnya kepada kami," dia menambahkan.

          Monday, March 18, 2019

          INDEX NEWS - IHSG Menghijau, Rupiah pada Posisi 14.233 per Dolar AS


          Index News Update, Jakarta Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada hari ini. Adapun rupiah pada posisi 14.223 per Dolar Amerika Serikat (AS).
          Pada pra pembukaan perdagangan saham Selasa (19/3/2019), IHSG naik 6,11 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.515,5. Laju IHSG terus menguat pada pembukaan pukul 09.00 waktu JATS. IHSG naik 27,22 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.516,67.
          Sebanyak 126 saham menguat sehingga mengangkat IHSG ke zona hijau. Sementara 32 saham melemah dan 140 saham diam di tempat.
          Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.522,2 dan terendah 6.515,1.
          BACA JUGA :
          PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
          RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
          PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
          PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
            Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 8.178 kali dengan volume perdagangan 985,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 272,5 miliar.
            Investor asing jual saham Rp 9,9 miliar di total pasar. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 14.223.
            Adapun sektor saham yang menghijau, antara lain pertambangan naik 0,55 persen, konsumsi naik 0,28 persen dan konstruksi menguat 0,24 persen.
            Sementara saham yang melemah antara lain, saham aneka industri yang susut 1,49 persen. Sektor saham infrastruktur turun 0,08 persen dan sektor saham infrastruktur melemah 0,07 persen.
            Adapun saham-saham yang cetak top gainers dan mengangkat IHSG antara lain saham AKPI naik 15,7 persen, saham GLOB menguat 15,4  persen, dan saham MPPA menguat 15,47 persen.
            Sedangkan saham-saham yang melemah antara lain saham KBLV turun 5,77 persen, saham MFIN merosot 5 persen dan saham BCAP susut 4,76 persen.

            Prediksi Sebelumnya

            Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak positif pada perdagangan saham Selasa (19/3/2019).
            Analis PT Artha Sekuritas Indonesia, Dennies Christoper Jordan menyebutkan, penguatan IHSG didorong oleh optimisme investor yang merespons positif perkembangan dari sentimen global di mana damai dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) semakin mendekati kesepakatan.
            "Dari dalam negeri Investor masih akan mengantisipasi rilis laporan kinerja emiten untuk tahun 2018. IHSG akan menghijau di level 6.487-6.519," ujarnya di Jakarta, Selasa pekan ini.
            Sementara itu, dari sisi teknikal IHSG dinilai masih akan tetap menguat, bergerak dari level support dan resistance di 6.466-6.530.
            "Di tengah volatilitas global yang masih tinggi, IHSG diperkirakan berpeluang untuk melanjutkan penguatan meskipun cenderung sideways. Sentimen lain yang diperkirakan memberikan dukungan bagi indeks pekan ini antisipasi pemodal atas musim laporan laba," ujar Fund Manager PT Valbury Capital Management Suryo Narpati.
            Adapun saham yang dapat dicermati menurut Suryo antara lain saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
            Kemudian anjuran Dennies adalah saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Medco Energi International Tbk (MEDC), serta PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP).

            Sumber : Liputan 6