Tuesday, June 18, 2019

INDEX NEWS UPDATE - IHSG Berpotensi Menguat, Awasi Saham Pilihan Ini


Index News Update, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan kembali berlabuh ke zona hijau menunggu hasil keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS).
Analis PT Artha Sekuritas, Dennies Christoper menilai, investor masih menanti keputusan suku bunga The Fed dan berharap akan memberikan sinyal pemangkasan suku bunga.
Sementara itu, menurut Dennies, hari ini sinyal indeks secara teknikal membentuk formasi Bullish Harami, yakni mengindikasikan ada potensi penguatan.

BACA JUGA :
PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
    Adapun pada perdagangan saham hari ini, IHSG diperkirakan bergerak pada rentang 6.216-6.278. 
    "Namun, penguatan saya perkirakan bersifat terbatas. Ini disebabkan investor masih terlihat wait and see menunggu hasil keputusan suku bunga The Fed," terangnya di Jakarta, Rabu (19/6/2019).
    Senada, Analis PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Suryawijaya membaca gerak IHSG kemungkinan akan ditutup ke zona positif.
    Akan tetapi, sinyal pemangkasan suku bunga The Fed diperkirakan memudar setelah para pejabat the Fed memperdebatkan penurunan suku bunga untuk melindungi ekonomi Amerika dari meningkatnya perselisihan dagang.
    Oleh karena itu, investor hingga kini terlihat wait and see menjelang FOMC, seakan mencari signal pada kemungkinan pemotongan suku bunga ke depan. 
    Untuk pilihan saham, William merekomendasikan investor untuk membeli saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), hingga PT Astra International Tbk (ASII).
    Sedangkan Dennies menganjurkan para investor untuk memburu saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT PP (Persero) Tbk (PTPP).

    Perdagangan Kemarin

    Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menguat pada perdagangan saham Selasa, 18 Juni 2019. IHSG sempat berada di zona merah selama dua hari sejak perdagangan Jumat pekan lalu hingga Senin kemarin.
    Pada penutupan perdagangan saham, Selasa pekan ini, IHSG naik 66,80 poin atau 1,08 persen ke posisi 6.257,33. Indeks saham LQ45 mendaki 1,47 persen ke posisi 994,70. Seluruh indeks saham acuan kompak menguat.
    Sebanyak 207 saham mendaki sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sementara itu, 197 saham melemah dan 134 saham diam di tempat. Pada Selasa pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.257,33 dan terendah 6.195,13.
    Total frekuensi perdagangan saham sekitar 455.102 kali dengan volume perdagangan 13,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 8 triliun. Investor asing beli saham Rp 438,01 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.323.
    Sebagian besar sektor saham menguat kecuali sektor saham tambang turun 0,67 persen dan sektor saham industri dasar susut 0,15 persen.
    Sementara itu, sektor saham konstruksi menguat 3,38 persen, dan bukukan penguatan terbesar. Disusul sektor saham keuangan menguat 1,41 persen dan sektor saham aneka industri menanja 1,28 persen.
    Saham-saham catatkan penguatan terbesar antara lain saham BOLA melonjak 25 persen ke posisi Rp 370 per saham, saham SMBR mendaki 24,84 persen ke posisi Rp 980 per saham, dan saham DUTI naik 24,35 persen ke posisi Rp 4.750 per saham.
    Sementara itu, saham-saham yang melemah antara lain saham BLTZ turun 23,23 persen ke posisi Rp 3.800 per saham, saham INPP turun 19,60 persen ke posisi Rp 800 per saham, dan saham ARMY tergelincir 17,91 persen ke posisi Rp 220 per saham.

    Selanjutnya

    Bursa saham Asia kompak menguat kecuali indeks saham Jepang Nikkei turun 0,72 persen. Indeks saham Hong Kong Hang Seng menguat 1 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,38 persen, indeks saham Thailand menanjak 0,84 persen.
    Selain itu, indeks saham Shanghai menguat 0,09 persen, indeks saham Singapura naik 0,86 persen dan indeks saham Taiwan bertambah 0,34 persen.
    Kepala Riset PT Samuel Internasional, Harry Su menuturkan, kemungkinan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) turun menjadi sentimen positif. Selain itu, secara teknikal, IHSG cenderung mendatar selama dua hari ini. Hal itu mendorong IHSG ke zona hijau. “Dua hari IHSG flat,” ujar Harry saat dihubungi Liputan6.com.

    Sumber : Liputan 6

    Monday, June 17, 2019

    INDEX NEWS UPDATE - Communication Cable System Catatkan Saham Perdana di BEI


    Index News Update, Jakarta - Pasar modal Indonesia kembali kedatangan emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Communication Cable Systems (CCSI) akan mencatatkan saham perdana di papan pengembangan BEI pada perdagangan saham Selasa (18/6/2019).
    Manajemen Perseroan mengatakan, harga Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO) saham CCSI tercatat sebesar Rp 250 per saham.
    Perusahaan menawarkan 200 juta saham baru atau sebanyak 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan. Dengan begitu, jumlah seluruh nilai penawaran umum sebesar Rp 50 miliar.

    BACA JUGA :
    PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
    RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
    PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
    PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
      Adapun 93 persen dana IPO akan digunakan untuk belanja modal sejalan dengan rencana perseroan mengembangkan proyek fiber optic submarine cable (Proyek FO Submarine) yang akan dilaksanakan pada periode 2019-2020.
      "Sisanya akan digunakan untuk modal kerja dalam rangka pengoperasian Proyek FO Submarine tersebut," ucap manajemen.
      Adapun Perseroan menunjuk PT UOB Kay Hian Sekuritas selaku penjamin pelaksana emisi efek. Head of Investment Banking UOB Kay Hian Sekuritas, John Octavianus sebagai penjamin emisi efek mengungkapkan, pada saat penawaran awal, terjadi oversubscribed hingga dua kali permintaan.
      Sebagai informasi, CCSI merupakan salah satu pemasok kabel laut serat optik, kabel darat dan pipa HDPE untuk mega proyek Palapa Ring yang merupakan proyek pembangunan serat optik dengan panjang 36.000 kilometer yang terbentang di seluruh Indonesia.

      Menyusul Bali United, BEI Dorong Arema Lepas Saham di Pasar Modal

      Klub bola nasional PT Bali Bintang Sejahtera Tbk atau Bali United resmi melantai atau mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi ini.
      Perusahaan berkode BOLA ini menjadi klub sepak bola pertama yang mencatatkan saham perdana atau Innitial Public Offering (IPO) di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.
      Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan, selain Bali United, ada klub sepak bola lainnya yang juga berpotensi melantai di bursa saham yaitu klub sepak bola Arema.
      Dia menjelaskan, BEI sudah melakukan pendekatan dengan klub Arema dan diharapkan dapat melakukan aksi serupa, yakni IPO menyusul Bali United. 
      "Dengan Arema sudah ketemu sebelum libur Lebaran kemarin. Jadi begini, Arema sudah kita lakukan pendekatan dan mereka sekarang sedang concern internal dulu, apa saja yang perlu dipersiapkan," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (17/6/2019).
      Selaku otoritas bursa, pihaknya tentu berharap Arema dapat secepat mungkin melakukan aksi IPO. Namun, aksi korporasi itu ditentukan sejauh mana pihak internal Arema mempersiapkan rencana IPO tersebut.
      "Ya tergantung pengurus internalnya dulu. Kita beri kesempatan mereka untuk mencerma. Dari kita ya kita sih berharapnya semua bisa tahun ini," ucapnya.
      Selain itu, Nyoman menambahkan, pendekatan juga dilakukan pada klub sepak bola lainnya yakni Persija dan Persib. Namun, untuk kedua klub ini belum sampai pada tahap pertemuan.
      "Persija dan Persib kita sudah lakukan pendekatan, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa ketemu," tambahnya. Dengan begitu akan banyak klub bola yang menyusul Bali United melantai di BEI.

      Sumber : Liputan 6

      Sunday, June 16, 2019

      INDEX NEWS UPDATE - Inflasi Terkendali, BI Bakal Pertahankan Suku Bunga Acuan


      Index News Update, Jakarta - Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) pada 19-20 Juni 2019. Ini merupakan agenda RDG bulanan yang rutin dilakukan oleh pejabat BI.
      Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Ryan Kiryanto memperkirakan dalam RDG tersebut diputuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan enam persen.
      "Karena arah laju inflasi masih dalam koridor BI, maka dalam RDG BI Juni 2019 nanti RDG BI masih akan menahan BI7DRRR di level 6 persen juga untuk lending facility rate dan deposit facility akan bertahan di level saat ini," ucap dia kepada Liputan6.com, seperti ditulis Minggu (16/6/2019).

      BACA JUGA :
      PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
      RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
      PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
        Menurut dia, kebijakan BI melalui jalur makroprudensial, tidak melalui jalur suku bunga. BI masih harus mewaspadai inflasi Juni 2019 yang mungkin masih relatif tinggi pasca Lebaran.
        Untuk inflasi Mei 2019 yang sebesar 0,68 persen, menurut dia, masih dalam kondisi yang wajar. Bahkan laju inflasi pada Mei ini justru bisa menjadi indikasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II ini lebih baik.
        Ia menuturkan, lonjakan inflasi Mei 0,68 persen menyiratkan geliat ekonomi yg tinggi dari sisi konsumsi rumah tangga. Tercermin dari lonjakan harga kelompok bahan makanan, makanan jadi serta transportasi dan komunikasi jelang Lebaran
        "Hal ini berefek positif ke pertumbuhan ekonomi (PDB) triwulan kedua yang diperkirakan sebesar 5,15-5,25 persen (YoY)," kata dia.
        Laju inflasi Mei tersebut, kata Ryan, terjadi secara musiman jelang Lebaran dengan permintaan konsumsi masyarakat melonjak terutama terhadap bahan makanan; makanan jadi, rokok dan tembakau; serta transportasi dan komunikasi, dibarengi dengan lonjakan harga sekaligus. 
        Selain itu, secara umum, arah laju inflasi bulanan yang 0,68 persen, inflasi year to date yang 1,48 persen maupun tahunan (yoy) yang 3,32 persen masih sesuai target kisaran. 
        "Diharapkan inflasi sepanjang tahun ini berkisar 3,2-3,3 persen yoy sesuai dengan jangkar yaitu 3,5 +/- 1 persen," pungkas dia.

        Sri Mulyani Yakin BI Bakal Turunkan Suku Bunga Acuan

        Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani optimis Bank Indonesia (BI) akan menyesuaikan suku bunga acuan atau BI 7 Day Repo Rate, dengan kembali menurunkannya.
        Penyesuaian mau tidak mau pasti dilakukan Bank Sentral dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang terus menunjukkan risiko pelemahan.
        Seperti diketahui Bank Sentral AS atau Federal Reserve yang semula dipastikan akan menaikkan suku bunga acuan memilih untuk menundanya. Bahkan beberapa analis lainnya justru memperkirakan The Fed kemungkinan menurunkan suku bunga acuannya pada tahun ini.
        "Saya rasa BI juga akan melakukan adjustment atau penyesuaian monetary policy-nya. Bagaimana BI akan melakukan, saya tentu hormati BI," kata dia di Gedung BPK RI, Jakarta, Rabu, 12 Juni 2019.
        Melihat kondisi global yang bergejolak tersebut, Sri Mulyani menegaskan pemerintah bersama BI akan tetap fokus menjaga stabilitas ekonomi domestik dari gempuran faktor eksternal.
        Selain suku bunga acuan, BI juga akan menyesuaikan kebijakan makroprudensial. Keduanya diharapkan dapat menjaga stabilitas perekonomian domestik.
        "Mereka (BI) akan gunakan policy suku bunga maupun policy makroprudential. Dua-duanya sangat brrguna bagi ekonomi kita. Jadi saya hormati," dia menandaskan.
        Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Mei 2019 Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali menahan Bank Indonesia (BI) 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan pada angka 6,00 persen.
        Bank Indonesia juga menahan suku bunga Deposit Facility pada angka 5,25 persen dan Lending Facility 6,75 persen.

        BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 6 Persen pada Mei

        Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG Mei 2019 Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali menahan Bank Indonesia (BI) 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan pada angka 6,00 persen.
        Bank Indonesia juga menahan suku bunga Deposit Facility pada angka 5,25 persen dan Lending Facility 6,75 persen.
        "Rapat Dewan Gubernur BI pada 15-16 Mei 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day repo" ujar Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, di Kantor BI, Jakarta, Kamis, 16 Mei 2019.
        Dia menjelaskan keputusan menahan suku bunga acuan tersebut sejalan dengan upaya untuk menjaga stabilitas eksternal perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.
        "Bank Indonesia akan terus mencermati kondisi pasar keuangan global dan stabilitas eksternal perekonomian Indonesia dalam mempertimbangkan terbukanya ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri," ujarnya.
        Selain itu dia menegaskan bank sentral akan selalu menjaga likuiditas perbankan dalam negeri. "Bank Indonesia juga tetap memastikan ketersediaan likuiditas di perbankan serta menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif," ujar dia.

        Sumber : Liputan 6

        Thursday, June 13, 2019

        INDEX NEWS UPDATE - IHSG Menguat 10,32 Poin ke Posisi 6.283



        Index News Update, Jakarta Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghijau pada perdagangan saham hari ini. Rupiah pada posisi 14.293 per Dolar Amerika Serikat (AS).
        Pada pra pembukaan perdagangan saham Jumat (14/6/2019), IHSG menguat 4,94 poin atau 0,08 persen ke posisi 6.278,02. Pada pembukaan pukul 09.00 waktu JATS, IHSG kembali menguat 10,32 poin ke posisi 6.283,4.
        Demikian pula indeks saham LQ45 menguat 0,22 persen ke posisi 996,59. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.
        Sebanyak 113 saham menguat dan mengangkat IHSG. Kemudian 33 saham melemah dan 109 diam di tempat.
        Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.285,6 dan terendah 6.277,40.

        BACA JUGA :
        PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
        RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
        PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
        PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
          Total frekuensi perdagangan saham 6.622 kali dengan volume perdagangan saham 336,8 juta saham. Nilai transaksi harian saham Rp 127,9 miliar.
          Investor asing beli saham Rp 3,97 miliar di total pasar. Posisi Dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.293.
          Sebagian besar sektor saham menguat. Sektor saham industri dasar menguat 0,71 persen. Sementara infrastruktur naik 0,64 persen. Kemudian sektor saham pertambangan menguat 0,53 persen.
          Sementara yang melemah antara lain, sektor saham konsumsi sebesar 0,08 persen dan perdagangan 0,09 persen.
          Saham-saham cetak top gainers antara lain saham INDX naik 11,11 persen ke posisi Rp 70 per saham, saham TIRA melonjak 8,70 persen ke posisi Rp 250 per saham, dan saham SIMA naik 10,84persen ke posisi Rp 815 per saham.
          Sedangkan saham-saham yang melemah antara lain saham BPTR turun 11,24 persen ke posisi Rp 79 per saham, saham MASA tergelincir 8,33 persen ke posisi Rp 550 per saham.

          Penutupan Kemarin

          Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu mempertahankan penguatan pada perdagangan Kamis ini. Saat dibuka menghijau, IHSG harus ditutup di zona merah.
          Pada penutupan perdagangan saham, Kamis (13/6/2019), IHSG merosot 3,09 poin atau 0,05 persen ke posisi 6.273,08. Indeks saham LQ45 melemah 0,18 persen ke posisi 994,38. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
          Sebanyak 203 saham melemah sehingga menekan IHSG. Selain itu 203 saham menguat dan 131 saham diam di tempat.
          Pada Kamis pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.284,45 dan terendah 6.250,11.
          Total frekuensi perdagangan saham 461.240 kali dengan volume perdagangan 12,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,9 triliun.
          Investor asing jual saham Rp 568 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.280.
          Sebagian besar sektor saham melemah kecuali sektor saham konstruksi yang naik 2,08 persen, sektor saham infrastruktur yang menguat 0,64 persen dan sektor saham aneka industri mendaki 0,09 persen.
          Sektor saham perkebunan susut 0,67 persen, dan alami tekanan terbesar pada perdagangan Kamis pekan ini. Disusul sektor saham keuangan tergelincir 0,36 persen dan sektor saham inudstri dasar yang juga merosot 0,36 persen.
          Saham-saham catatkan penguatan di tengah tekanan IHSG antara lain saham HDFA melonjak 34,35 persen ke posisi Rp 176 per saham, saham SIMA mendaki 33,87 persen ke posisi Rp 83 per saham, dan saham SMBR menanjak 25 persen ke posisi Rp 925 per saham.
          Sementara itu, saham-saham yang melemah antara lain saham MPMX turun 24,83 persen ke posisi Rp 1.090 per saham, saham PUDP merosot 12,74 persen ke posisi Rp 370 per saham, dan saham IDPR terpangkas 11,74 persen ke posisi Rp 406 per saham.


          Sumber : Liputan 6

          Wednesday, June 12, 2019

          INDEX NEWS UPDATE - Sentimen Perang Dagang Masih Bebani Laju IHSG



          Index News Update, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi masih akan merosot pada perdagangan saham Kamis pekan ini. 
          Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, Maximilianus Nico Demus mengatakan, perang dagang masih menjadi sentimen eksternal yang menggiring IHSG berpeluang tertekan.
          Dia memperkirakan, IHSG akan tertekan diperdagangkan pada support dan resistance di 6.200-6.300.
          "Kemungkinan masih akan terkoreksi wajar sampai perdagangan hari ini," terangnya saat berbincang dengan Liputan6.com, Kamis (13/6/2019).

          BACA JUGA :
          PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
          RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
          PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
          PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
            Sementara itu, Analis PT Jasa Utama Capital Chris Apriliony mengatakan, IHSG masih berpeluang bergerak ke zona hijau untuk Kamis pekan ini.
            Itu disokong oleh isu keamanan dan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) pada 2019.
            Ia memproyeksikan, IHSG berpeluang naik pada support resistance di 6.260-6.300. 
            Untuk perdagangan saham hari ini, Jasa Utama Capital merekomendasikan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN).
            Sedangkan Kiwoom Sekuritas menyarankan saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), serta PT Malindo Feedmil Tbk (MAIN).

            Perdagangan Kemarin

            Sebelumnya, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan saham Rabu pekan ini. Aksi jual investor asing tekan laju IHSG.
            Pada penutupan perdagangan saham, Rabu, 12 Juni 2019, IHSG merosot 29,81 poin atau 0,47 persen ke posisi 6.276,17. Indeks saham LQ45 menguat 0,61 persen ke posisi 996,18. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
            Sebanyak 215 saham melemah sehingga menekan IHSG. 185 saham menguat dan 143 saham diam di tempat.
            Pada Rabu pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.296,81 dan terendah 6.257,43.
            Total frekuensi perdagangan saham 476.612 kali dengan volume perdagangan 12,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,4 triliun. Investor asing jual saham Rp 191,41 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.235.
            Sebagian besar sektor saham melemah kecuali sektor saham barang konsumsi naik 0,27 persen dan sektor saham perdagangan mendaki 0,01 persen.
            Sektor saham tambang susut 1,71 persen, dan alami tekanan terbesar pada perdagangan Rabu pekan ini. Disusul sektor saham infrastruktur tergelincir 1,4 persen dan sektor saham aneka industri merosot 1,21 persen.
            Saham-saham catatkan penguatan di tengah tekanan IHSG antara lain saham FITT melonjak 34,10 persen ke posisi Rp 232 per saham, saham POLY mendaki 25 persen ke posisi Rp 110 per saham, dan saham PLIN menanjak 24,57 persen ke posisi Rp 4.360 per saham.
            Sementara itu, saham-saham yang melemah antara lain saham KOIN turun 24,85 persen ke posisi Rp 248 per saham, saham JKON merosot 24,35 persen ke posisi Rp 348 per saham, dan saham APEX terpangkas 16,17 persen ke posisi Rp 700 per saham.

            Selanjutnya

            Bursa saham Asia sebagian besar melemah kecuali indeks saham Thailand naik 0,05 persen dan indeks saham Taiwan menguat 0,07 persen.
            Sementara itu, indeks saham Hong Kong Hang Seng melemah 1,73 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi terpangkas 0,14 persen, indeks saham Jepang Nikkei susut 0,35 persen, indeks saham Shanghai melemah 0,56 persen dan indeks saham Singapura merosot 0,18 persen.
            Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, pelemahan IHSG didorong minimnya sentimen positif dari dalam negeri. Dari eksternal didorong ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat-China dan ekonomi global melambat.
            Bursa saham Asia sebagian besar melemah kecuali indeks saham Thailand naik 0,05 persen dan indeks saham Taiwan menguat 0,07 persen.
            Sementara itu, indeks saham Hong Kong Hang Seng melemah 1,73 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi terpangkas 0,14 persen, indeks saham Jepang Nikkei susut 0,35 persen, indeks saham Shanghai melemah 0,56 persen dan indeks saham Singapura merosot 0,18 persen.
            Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, pelemahan IHSG didorong minimnya sentimen positif dari dalam negeri. Dari eksternal didorong ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat-China dan ekonomi global melambat.

            Sumber : Liputan 6

            Monday, June 10, 2019

            INDEX NEWS UPDATE - Hotel Fitra Bakal Catatkan Saham Perdana di BEI


            Index News Update, Jakarta - PT Hotel Fitra International Tbk akan mencatatkan saham perdana dengan kode saham FITT di papan pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan saham Selasa (11/6/2019).
            Direktur Keuangan PT Hotel Fitra International Tbk, Sukino mengatakan, harga penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) FITT sebesar Rp 102 per unit. 
            Adapun jumlah saham Perseroan yang dilepas ke publik mencapai 220 juta unit. Penawaran itu sebesar 36,67 persen dari modal disetor dan ditempatkan FITT setelah IPO. 

            BACA JUGA :
            PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
            RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
            PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
            PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
              Dari aksi korporasi ini, Perseroan mengincar dana segar sebesar Rp 22,44 miliar. 50 persen dana hasil IPO akan digunakan untuk mengakuisisi tambahan landbank. Setelah itu 30 persen untuk membangun convention hall di Hotel Fitra, sisanya untuk modal kerja.
              Perusahaan juga akan memberikan pemanis berupa waran sebanyak 132 juta waran seri I. Rasio pembagiannya, lima saham baru akan mendapat tiga waran.
              "Kami optimistis untuk perolehan laba Perseroan dapat membukukan sebesar Rp3,2 miliar," terangnya. Sebagai informasi, Perseroan telah menunjuk PT Lotus Andalan Sekuritas sebagai penjamin emisi (lead underwriter) untuk IPO ini.

              Hotel Fitra Lepas 220 Juta Saham ke Publik

              Sebelumnya, PT Hotel Fitra International melepas 220 juta saham ke publik dalam rangka penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Harga saham perdana yang ditawarkan di kisaran Rp 100-Rp 105 per saham.
              Dari IPO ini, perusahaan yang bergerak di bidang jasa perhotelan tersebut akan memperoleh tambahan modal antara Rp 22 miliar hingga Rp 23 miliar.
              Direktur Utama HFI, Joni Rizal mengatakan, 50 persen dana IPO akan digunakan untuk mengakuisisi tambahan cadangan lahan melalui anak usaha PT Bumi Majalengka Permai (BMP) sebagai pengelola Hotel Fitra.
              "Sekitar 30 persen dana IPO akan digunakan untuk pembangunan Convention Hall di Hotel Fitra milik BMP. Sedangkan sisa dana IPO sekitar 20 persen, akan digunakan sebagai modal kerja bagi BMP," tutur dia dalam paparan publik di Jakarta, Selasa (14/5/2019).
              Bersamaan dengan penawaran saham baru, HFI juga akan menawarkan waran seri I sebanyak 132 juta unit dengan rasio 5:3. Itu berarti, setiap pemegang lima saham akan memperoleh tiga waran seri I.

              Jadwal IPO

              IPO HFI akan digelar pada 24-27 Mei 2019. Jumlah saham IPO tersebut sebesar 37,67 persen dari modal disetor dan ditempatkan Perseroan setelah IPO.
              Saham HFI bernominal Rp 100 per unit itu akan dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 29 Mei 2019. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan akan menerbitkan pernyataan efektif untuk HFI ini pada 23 Mei 2019.
              Direktur Keuangan HFI, Sukino menjelaskan, Perseroan mencatat aset sebesar Rp47,07 miliar per Desember 2018. Sementara pendapatan Perseroan mencapai Rp8,07 miliar pada 2018, naik 225,4 persen dari Rp2,48 miliar pada 2017. 
              "Pendapatan Perseroan terbesar tahun lalu berasal dari sewa kamar sebesar 73,67 persen. Dari sewa ruangan rapat 17,52 persen, restoran 7,71 persen, sisanya dari laundry," ujar dia. 
              Adapun dalam aksi korporasi ini, Perseroan menunjuk PT Lotus Andalan Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

              SUmber : Liputan 6

              Sunday, June 9, 2019

              INDEX NEWS UPDATE - Harapan The Fed Pangkas Suku Bunga Bawa Wall Street Menguat


              Index News Update, New York - Wall Street atau Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat dipicu laporan pertumbuhan pekerjaan AS yang melambat mendorong harapan Federal Reserve akan menurunkan suku bunganya. Sementara optimisme tentang potensi kemajuan sengketa perdagangan AS dengan China dan Meksiko justru menambah risiko.
              Melansir laman Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 263,28 poin, atau 1,02 persen menjadi 25.983,94, S&P 500 naik 29,85 poin, atau 1,05 persen menjadi 2,873,34 dan Nasdaq Composite menambahkan 126,55 poin, atau 1,66 persen menjadi 7,742.10.

              Bursa AS kali ini dipengaruhi investor yang bertaruh bahwa pelemahan pasar tenaga kerja akan memberi The Fed alasan untuk memberi ekonomi lebih banyak dukungan. Ini akan mendorong indeks S&P 500 dan Dow mencapai keuntungan mingguan terbesarnya sejak akhir November, tepat sebelum aksi jual besar-besaran terjadi di akhir tahun.
              Laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan nonfarm payrolls meningkat 75.000 pekerjaan pada bulan lalu, jauh lebih kecil dari prediksi ekonom sebesar 185.000 dalam jajak pendapat Reuters. Ini menunjukkan hilangnya momentum dalam kegiatan ekonomi menyebar ke pasar tenaga kerja.
              Akibatnya, pedagang menaikkan taruhan untuk penurunan suku bunga di bulan Juli diikuti oleh dua penurunan suku bunga lagi di akhir tahun.
              "Laporan pekerjaan menunjukkan ada beberapa kelemahan tetapi ekonomi tetap relatif kuat pada saat ini," kata Peter Jankovskis, co-chief investment officer OakBrook Investments LLC di Lisle, Illinois.
              Investor menempatkan data pekerjaan yang melemah memungkinkan tindakan Fed lebih tepat waktu. Investor tampaknya memberi bobot lebih pada kebijakan Fed daripada data ekonomi.
              "Saat ini pasar bersedia menerima pertumbuhan yang mengecewakan dalam pertukaran untuk prospek tingkat suku bunga yang lebih rendah," kata Jack Ablin, Kepala Investasi Cresset Capital Management di Chicago. 

              Perang Dagang

              Hal yang Juga menambah antusiasme investor pada hari Jumat adalah pemberitahuan dari pejabat AS yang memberi eksportir China waktu dua minggu lagi untuk memasukkan produknya ke Amerika Serikat sebelum kebijakan kenaikan tarif berlaku. Para pemimpin AS dan Cina diperkirakan akan bertemu pada akhir Juni di pertemuan G20.
              Sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan masih ada "peluang bagus" dari kesepakatan perdagangan AS-Meksiko. Namun jika kedua negara gagal membuat kesepakatan, ia berencana untuk mengenakan tarif 5 persen pada impor Meksiko, mulai Senin.
              Sumber-sumber Meksiko mengatakan kepada Reuters Jumat malam bahwa para perunding sedang berjuang untuk mencapai kesepakatan atas permintaan AS agar Meksiko menerima lebih banyak pencari suaka.
              "Pemangkasan suku bunga sedang dilakukan penetapan harga ke pasar, tetapi untuk naik lebih tinggi Anda perlu mendapatkan kemajuan di bidang perdagangan karena dalam jangka panjang itu adalah masalah yang lebih besar untuk pasar," kata Larry Adam, Kepala Investasi  Raymond James di Baltimore, Maryland.
              Adapun saham yang menguat dalam indeks S&P adalah Microsoft Corp, Apple Inc dan Amazon.com. Saham teknologi, di antara yang paling terpukul akibat meningkatnya ketegangan perdagangan baru-baru ini, naik 2 persen dan memberikan dorongan terbesar pada 11 sektor utama S&P 500.
              Pembuat chip, yang mendapatkan sebagian besar pendapatan mereka dari China, juga naik, dengan indeks chip Philadelphia naik 1,2 persen. Namun, industri yang sensitif terhadap tarif sedikit berkinerja buruk dengan kenaikan 0,9 persen.
              Saham bank yang sensitif terhadap tingkat suku bunga turun 0,98 persen. Satu-satunya sektor dalam indeks utama S&P yang memerah adalah indeks keuangan yang, turun 0,19 persen.
              Di bursa AS kali ini, 6,48 miliar saham berpindah tangan dibandingkan dengan rata-rata 7,04 miliar untuk 20 sesi terakhir.

              Sumber : Liputan 6