Thursday, August 15, 2019

INDEX NEWS UPDATE - IHSG Bakal Menguat, Simak Saham Pilihan Berikut


Index News Update, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bakal perkasa usai lesu pada perdagangan Kamis kemarin. Hari ini, sejumlah analis sepakat indeks berpotensi menguat.
Riset KGI Sekuritas menyebutkan, IHSG berpeluang rebound (naik) dengan kemungkinan diperdagangkan dalam kisaran support dan resistance di level 6.300-6.350.
"Koreksi akibat aksi jual kaum beruang tertahan di atas level 6.200, sehingga dapat dikatakan IHSG masih cukup kuat untuk menopang skenario upward retracement untuk mengetes resistance psikologis 6.300-6.350 dalam beberapa hari ke depan," terang Analis KGI Sekuritas Yuganur Wijanarko dalam risetnya Jumat (16/8/2019).

BACA JUGA :
PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
    Pihaknya memproyeksi, jika IHSG secara teknikal dapat menutup perdagangan pada hari ini di atas level 6.200, maka resiko penurunan lanjutan ke 6.020 hilang sudah dan arah pergerakan harga lebih kondusif ke resistance psikologis berikutnya di 6.400.
    Senada, Riset Binaartha Parama Sekuritas menilai IHSG dari sisi teknis berpeluang bergerak ke teritori positif di level 6.156-6.319.
    Hari ini, sejumlah saham rekomendasi yang dapat menjadi pertimbangan investor menurutnya ialah saham PT Alam Sutra Reality Tbk (ASRI), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
    Sementara itu, KGI Sekuritas menyarankan investor agak membeli saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), serta saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).

    Perdagangan Kemarin

    IHSG ditutup melemah pada perdagangan awal Kamis kemarin. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.268.
    Pada penutupan perdagangan saham Kamis (15/8/2019), IHSG melemah 9,74 poin atau 0,16 persen ke level 6.257,58. Indeks saham LQ45 juga melemah 0,37 persen ke posisi 983,31.
    Sebanyak 267 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. Sementara 136 saham menguat dan 124 saham diam di tempat. 

    BACA JUGA :
    PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
    RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
    PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
    PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
    Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 511.693 kali dengan volume perdagangan 14 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,8 triliun.
    Investor asing jual saham Rp 410,25 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.268.
    Dari 10 sektor pembentuk IHSG, enam sektor mengalami pelemahan. Pelemahan tersebut dipimpin oleh sektor aneka industri yang turun 2 persen. Disusu sektor pertambangan 0,74 persen dan sektor keuangan 0,67 persen.
    Sementara sebanyak empat sektor menguat dipimpin oleh sektor industri dasar yang naik 1,88 persen, sektor konstruksi naik 0,66 persen dan sektor manufaktur naik 0,38 persen.

    Sumber : Liputan 6

    Tuesday, August 13, 2019

    INDEX NEWS UPDATE - IHSG Ditutup Melemah, Rupiah Melemah ke 14.318 per Dolar AS

    Pembukaan-Saham
    Index News Update, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan awal Selasa ini. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.318.
    Pada penutupan perdagangan saham Selasa (13/8/2019), IHSG melemah 39,63 poin atau 0,63 persen ke level 6.210,96. Indeks saham LQ45 juga turun 0,92 persen ke posisi 976,34.
    Sebanyak 260 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. Sementara 153 saham menguat dan 133 saham diam di tempat.
    Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 459.371 kali dengan volume perdagangan 16 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 8,4 triliun.

    BACA JUGA :
    PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
    RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
    PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
    PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
      Investor asing jual saham Rp 689 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.318.
      Dari 10 sektor pembentuk IHSG, hanya dua sektor yang menguat, yaitu sektor perkebunan yang naik 2,99 persen dan sektor perdagangan naik 0,06 persen.
      Sementara sebanyak delapan sektor melemah, dipimpin oleh sektor industri dasar yang anjlok 2,29 persen, sektor manufaktur turun 1,50 persen dan sektor barang konsumsi turun 1,26 persen.
      Saham-saham yang melemah sehingga membawa IHSG ke zona merah antara lain PAMG turun 24,88 persen ke Rp 320 per saham, BOSS anjlok 20,93 persen ke Rp 680 per saham dan UNIC turun 20 persen ke Rp 4.120 per saham.
      Sementara saham-saham yang menguat antara lain ARTO yang naik 24,32 persen ke Rp 276 per saham, EAST naik 23,64 ke Rp 204 per saham dan NICK naik 17,65 ke Rp 320 per saham.

      Sesuai Prediksi Analis

      Realisasi gerak IHSG ini sesuai dengan prediksi para analis. Sebelumnya, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus mengatakan, masih minim sentimen dari dalam negeri yang mampu mendorong penguatan indeks lebih lanjut.
      "IHSG berpotensi untuk kembali tertekan pada kisaran support dan resistance di 6.163 - 6.325," ujarnya kepada Liputan6.com, Selasa (13/8/2019).
      Di sisi lain, Analis PT Artha Sekuritas Dennies Christoper menilai ketidakpastian perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok masih menjadi sentimen eksternal yang membayangi laju indeks.
      "Tekanan global juga diperkirakanamasih akan mempengaruhi pergerakan IHSG dan juga membayangi investor," kata dia.
      Sementara itu, pihaknya memproyeksi IHSG cenderung akan melemah dalam rentang 6.228-6.292.

      Sumber : Liputan 6

      Monday, August 12, 2019

      INDEX NEWS UPDATE - Kekhawatiran Ekonomi Global Bikin Harga Emas Bertahan di Atas USD 1.500

      Index News Update, Jakarta - Harga emas naik tipis pada penutupan perdagangan Senin dan bertahan di atas level psikologis USD 1.500 per ounce. Hal ini terjadi karena kekhawatiran investor akan perlambatan pertumbuhan ekonomi global karena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.
      Mengutip CNBC, Selasa (13/8/2019) harga emas di pasar spot naik 0,94 persen ke level USD 1.510,86 per ounce. Sedangkan harga emas AS berjangka AS naik 0,94 prsen ke level USD 1.523,2 per ounce.
      "Emas sedang menguji level rebound karena kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan pembicaraan perang dagang (antara AS dan China)," jelas analis ActivTrades, Carlo Alberto De Casa.

      BACA JUGA :
      PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
      RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
      PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
        "Sejauh ini masih ada ruang bagi harga emas untuk terus naik karena memang pasar saham sedang terguncang," tambah dia.
        Perkembangan terakhir, perang dagang yang melibatkan AS dengan China masih terus belum diketahi ujungnya. Presiden AS Donald Trump pada Jumat lalu mengatakan bahwa dirinya belum siap untuk membuat kesepakatan dengan China.
        "Untuk mendorong harga emas ke level yang lebih tinggi, kita perlu kejutan negatif di sisi ekonomi, keuangan dan geopolitik. Jika tidak melihat eskalasi lebih lanjut, kita akan cenderung melihat harga emas di bawah tekanan," kata analis Commerzbank, Eugen Weinberg.
        Sementara itu, Goldman Sachs mengatakan pada hari Minggu bahwa kekhawatiran perang dagang yang mengarah ke resesi meningkat dan sepertinya tidak lagi perlu mengharapkan kesepakatan perdagangan antara Washington dan Beijing sebelum pemilihan presiden AS tahun 2020.

        Fokus Pelaku Pasar

        Fokus pelaku pasar saat ini adalah simposium tahunan Bank Sentral AS atahu the Federal Reserve (the Fed) di Jackson Hole yang berlangsung pada akhir pekan ini.
        Investor mencari kejelasan yang lebih besar pada jalur penurunan suku bunga di masa depan. Pelaku pasar melihat peluang 69 persen dari penurunan suku bunga 25 basis poin oleh Bank Sentral AS pada September nanti.
        Harga emas naik sebanyak 4 persen minggu lalu dan naik sekitar 17 persen di tahun ini.

        Sumber : Liputan 6

        Sunday, August 11, 2019

        INDEX NEWS UPDATE - Tekan Bunga Kredit, Jumlah Bank Nasional Harus Dipangkas

        Index News Update, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, pemerintah ingin agar Indonesia memiliki bunga kredit yang hanya 7 persen atau sejajar dengan Thailand. Menurutnya, bunga kredit di Indonesia saat ini masih cukup tinggi, yakni mencapai 10-11 persen.
        Menanggapi hal tersebut, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira berpendapat, salah satu faktor yang membuat bunga kredit saat ini masih tinggi adalah jumlah bank yang terlalu banyak.
        "Untuk tekan bunga kredit, kuncinya di pengendalian inflasi dan persaingan antar bank dalam perebutan dana juga harus ditekan. Jumlah bank yang terlalu banyak membuat bunga masih mahal," ungkap dia kepada Liputan6.com, Minggu (11/8/2019).

        BACA JUGA :
        PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
        RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
        PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
        PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
          Bhima menyatakan, keberadaan bank yang beroperasi idealnya tak lebih dari 90 perusahaan saja. "Dari 115 bank idealnya ditekan dibawah 90," sambung dia.
          Lebih lanjut, ia juga menyoroti permintaan JK terhadap Bank Indonesia (BI) untuk kembali menurunkan suku bunga acuan. Menurut JK, jika suku bunga rendah maka aliran dana akan beralih ke investasi.
          Dalam hal ini, Bhima menyebutkan, rendahnya suku bunga acuan juga akan membuat biaya pinjaman jauh lebih murah dan berujung pada peningkatan investasi serta pertumbuhan ekonomi. Dengan syarat, suku bunga acuan BI bisa kembali dipangkas sebanyak 50 basis poin (bps).
          "Memang prinsip ekonominya bunga yang rendah artinya biaya pinjaman jauh lebih murah. Pelaku usaha bisa beli mesin untuk naikan kapasitas produksi pabrik, perluas usaha, dan lain-lain," jelas Bhima.
          "Ujungnya, nilai investasi meningkat dan pertumbuhan ekonomi bisa di atas 5 persen. Tapi syaratnya, pemangkasan bunga acuan sebaiknya 50 bps lagi biar terasa signifikan," dia menandaskan.

          Produk Indonesia Harus Kompetitif di Tengah Tren Penurunan Suku Bunga

          Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan sejumlah negara di dunia telah menurunkan suku bunga acuan. Penurunan tersebut merespons ketidakpastian ekonomi global.
          "Bagaimana kondisi dunia dan perang dagang. Tiga negara sudah turunkan suku bunga itu ada New Zealand, Thailand, dan India," tuturnya di Jakarta, Jumat (9/8/2019).
          Enggartiasto menjelaskan, dengan fenomena pemangkasan suku bunga serempak tersebut, tantangan Indonesia ialah membuat produk-produk domestik menjadi kompetitif dan unggul.
          "Tantanganya apakah produk-produk kita bisa komeptitif atau tidak karena saat ini produk kita tidak kompetitif dari segi harga," ujarnya.
          Selain itu, Enggartiasto juga menyoroti tren penurunan ekspor RI terhadap sejumlah mitra dagang Indonesia. Sebab itu, RI perlu menciptakan akses pasar dari situasi global yang kini dihadapi berbagai negara besar di dunia.
          "Kita kejar ketinggalan dengan market access, karena kita sudah lost market dengan Turki dan India. Di sisi lain, kecenderungan beberapa negara sudah semakin kuat proteksionism," paparnya.  

          Sumber : Liputan 6